Depan | Buku | Artikel | Tanggapan atas keraguan | Tanya-jawab | Pandangan | Ilmuan | Penemu jalan kebenaran | Debate | Album Foto |
|

Kenapa Al-Qur’an mencela puisi, padahal puisi adalah salah satu dari tujuh seni?


Jawaban:

Pertama-tama yang harus diperhatikan dalam persoalan ini adalah hakikat puisi yang populer pada masa jahiliyah dan awal munculnya Islam, baru kemudian diteliti apakah tujuan Al-Qur’an dalam mencela para penyair. Puisi pada pada masa itu tidak lebih dari setumpuk khayalan tak berdasar yang disusun dalam bentuk sajak untuk tujuan-tujuan materialis yang hina. Lalu, puisi-puisi itu dilantunkan di berbagai pertemuan besar dan kecil untuk membanggakan dan memuji diri sendiri, melecehkan orang lain dan menjatuhkan kehormatan lawan, memprovokasi suku tertentu untuk perang dan perampokan, serta lain sebagainya. Dasar yang melandasi puisi-puisi ini adalah serangkai tujuan-tujuan materialis, sensasi-sensasi seksual, provokasi perang dan pertumpahan darah serta lain sebagainya. Puisi pada masa jahiliyah adalah pengejawantahan serangkai perasaan-perasaan palsu manusia dan sensasi-sensasi materialisnya yang hina, sarana untuk bercumbu dengan laki-laki tampan dan bercinta dengan wanita cantik yang menawan, pengungkapan rupa, bibir, hidung mata dan alis kekasih, caci-maki terhadap orang-orang saleh dari belakang, pujian untuk tiran, penjilatan terhadap penguasa dan orang kaya serta lain sebagainya.
Perlu diperhatikan bahwa pujangga yang motivasinya adalah sensasi pragmatis dan pemuasan instink-instink kebinatangan, tidak mempunyai anugerah spiritual dan pendidikan manusiawi yang benar, serta tidak mungkin peduli dengan rambu-rambu tertentu dalam sepak terjang persajakannya. Orang seperti ini tidak kuatir apa-apa dalam menghidupkan kebatilan, menutup-nutupi kebenaran, menginjak-injak hak orang yang tidak berdaya, melampaui batas-batas kehormatan orang lain, mengobarkan api birahi anak-anak muda dan melakukan perbuatan-perbuatan tercela yang lain.
Tutur adalah tanda pengenal diri dan kehidupan seseorang serta mengejawantahkan pola pikir dan isi hatinya. Berkenaan dengan penyair-penyair yang tidak bertujuan kecuali memenuhi kepentingan-kepentingan materialisnya, memuaskan sensasi-sensasi seksual dan instink kebinatangannya secara tidak legal, Al-Qur’an mengatakan:

وَالشُّعَرَاء يَتَّبِعُهُمُ الْغَاوُونَ أَلَمْ تَرَ أَنَّهُمْ فِي كُلِّ وَادٍ يَهِيمُونَ وَأَنَّهُمْ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ (الشعراء/ 26: 224 – 226)

Hanya orang-orang sesat yang mengikuti penyair-penyair itu! Tidakkah engkau melihat mereka berdusta tentang apa saja dan tidak mengamalkan apa yang mereka katakan?! Dari ayat-ayat di atas dapat dimengerti bahwa para penyair yang dicela oleh Al-Qur’an adalah penyair-penyair yang tidak memiliki standar religius dan pengawasan dari dalam diri, sehingga mereka pun menyandang sifat-sifat sebagai berikut:
1- Pimpinan orang-orang yang sesat (يَتَّبِعُهُمُ الْغَاوُونَ);
2- Tutur kata tanpa rambu-rambu; terserah apakah tutur kata itu mengedepankan kebatilan sebagai kebenaran atau mencoreng kebenaran di depan publik
أنَّهُمْ فِي كُلِّ وَادٍ يَهِيمُونَ

3- Karena mereka tidak percaya dengan tutur kata mereka sendiri, maka praktis mereka juga tidak mengamalkannya (وَأَنَّهُمْ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ).
Adapun segala macam puisi dan sajak yang muatan sensasi-sensasi suci pujangganya bersumber dari cinta kepada hakikat dan benci terhadap kebatilan serta semangat untuk mengajak orang lain kepada perbuatan-perbuatan yang baik tidaklah termasuk ayat-ayat di atas, melainkan termasuk ayat setelahnya:

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَذَكَرُوا اللَّهَ كَثِيرًا وَانتَصَرُوا مِن بَعْدِ مَا ظُلِمُوا (الشعراء/ 26: 227)

Artinya: “Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan banyak mengingat Allah, dan mereka mendapat pertolongan sesudah mereka dianiaya.” (QS. Al-Syu’ara’/ 26: 227.)
Tentunya, siapa saja penyair dan pujangga yang dasar pemikiran dan penuturannya adalah iman kepada Allah swt., amal yang saleh, ingat Allah swt., dan perlawanan terhadap tiran, maka di dalam puisi dan tutur katanya tidak ada hal lain kecuali hikmah kebajikan, nasihat, penyebaran yang benar dan pemusnahan yang batil. Dalam hal ini, Rasulullah saw. bersabda, “Inna min al-syi‘ri lahikmah.”; sungguh sebagian puisi adalah hikmah dan kebijakan.” [1] Itulah kenapa Imam Ja’far Shodiq as. berkomentar tentang ayat yang mencela para penyair, “Maksudnya adalah penyair-penyair dan juru dongeng masa jahiliyah yang melantunkan puisi untuk hiburan-hiburan yang tidak pantas.”
Ketika ayat-ayat celaan itu (224 – 226 Al-Syu’ara’) turun, ada sekelompok penyair yang mengerahkan puisi-puisi mereka untuk membela agama Islam dan umat muslim datang menghampiri Rasulullah saw. seraya bertanya, “Berdasarkan ayat ini, nasib kita tiada lain adalah kesengsaraan.” Ketika itu pula ayat berikutnya (227 Al-Syu’ara’) turun dan mengecualikan penyair-penyair mukmin yang mengutarakan puisi-puisi mereka demi kebenaran dan cinta spiritual.
Pengaruh puisi-puisi yang mendidik terhadap mental masyarakat bukanlah hal yang bisa diingkari, kadang-kadang begitu besarnya kekuatan yang diciptakan oleh puisi-puisi itu sehingga tidak ada cara lain yang dapat menggantikan posisinya dalam hal tersebut. Oleh karena itu, para pemimpin Islam senantiasa menyambut hangat puisi-puisi bagus dari para penyair yang bertujuan baik dan menghormati mereka selayak mungkin. Suatu hari, ketika doa minta hujan Rasulullah saw. dikabulkan, beliau mengingat pamannya Abu Thalib as. seraya bersabda, “Seandainya Abu Thalib masih hidup, dia pasti senang menyaksikan pemandangan ini. Apa ada di antara kalian yang bisa membacakan puisi-puisinya?.” Salah seorang berdiri dan berkata, “Mungkin maksudmu adalah puisi:
و ما حملت من ناقة فوق ظهرها
ابر و اوفی ذمه من محمد[2]

Artinya: “Tidak ada tunggangan di dunia ini yang memikul seseorang yang lebih mulia dan setia daripada Muhammad.”
Rasulullah saw. bersabda, “Ini puisi Hasan bin Tsabit –bukan Abu Thalib-.” Maka Amirul Mukminin Ali as. bangkit dan membacakan puisi-puisi yang dilantukan oleh bapaknya yang mulia, bait pertama puisinya adalah:
وأبيض يستسقی الغمام من وجهه
ثمال اليتامی عصمه للأرامل [3]

Artinya: “Wajah bersinar yang –demi menghormatinya- hujan diminta turun dari awan, kepribadian –agung- yang menjadi tempat berlindung anak-anak yatim dan penjaga wanita-wanita janda.”
Setelah itu, seorang dari suku Kinanah bangkit dan meminta ijin dari beliau untuk melantunkan puisi-puisi tentang Abu Thalib. Rasulullah saw. memberinya ijin dan dia pun melakukan niatnya tersebut. Lalu beliau bersabda, “Untukmu rumah di surga atas tiap-tiap puisi ini.” [4]
Penghargaan ini dan juga penghargaan-penghargaan lain seperti penghargaan Imam Ali Zainul Abidin as. kepada Farazdaq, Imam Ja’far Shodiq as. kepada Kumait, dan Imam Ali Ridho as. kepada Di’bil Khuza’i, adalah dikarenakan pengaruh besar puisi dalam membela hakikat kebenaran dan menghidupkannya. Suatu saat, Abdurrahman bin Ka’ab bertanya kepada Rasulullah saw. tentang puisi, beliau menjawab, “Orang yang beriman akan membela hakikat kebenaran dengan pedang dan lidahnya, sumpah demi Tuhan yang nyawaku berada di tangan-Nya, puisi-puisimu bagaikan anak panah-anak panah yang menikam hati dan mata musuh.” [5]
(Pursesyho Wa Posukhhoye Donyesju'i – Qur'on Syenosi, hal. 81 – 85 / Penerjemah: Nasir Dimyati (Dewan Penerjemah Situs Sadeqin)

1. Muhammad Muhammadi Rei-Syahri: Mîzân Al-Hikmah, jilid 6, hal. 2766, hadis ke-9436.
2. Syekh Mufid: Amâlî, hal. 76; Allamah Majlisi: Bihâr Al-Anwâr, jilid 16, hal. 198.
3. Allamah Majlisi: Bihâr Al-Anwâr, jilid 18, hal. 955 –terbitan Kumpani-; Syekh Muhammad Hasan Najafi: Jawâhir Al-Kalâm, jilid 14, hal. 122.
4. Allamah Majlisi: Bihâr Al-Anwâr, jilid 18, hal. 2.
5. Rei Syahri: Mîzân Al-Hikmah, jilid 2, hal. 1462.



Komentar Anda

nama :
Email :
Cantumkan jumlah dari dua angka berikut ini di kolom depan
6+5 =